Kamis, 20 Juli 2017

Kenangan: Critical Eleven

Saya suka film Critical Eleven. Nonton sampai 3 kali karena senang.

Film yang berdasarkan novel best seller Ika Natassa ini sebenarnya premisnya sederhana namun dalam.

Beberapa kali saya nonton film yang shootingnya di luar negeri, namun terkesan abal-abal. Berasa rugi beli karcis hehehe. Film Critical Eleven jauh dari abal-abal. Skenario mantap, pemain2nya mantap, view mantap, top deh.

Jadi mikir tentang cerita dalam film ini. Mikir tentang duka kehilangan.

Hidup pastinya penuh suka dan duka. Bagaimana bila kita menghadapi kehilangan yang amat sangat.

Bila kita paham ilmu tentang kehidupan, kita akan menerima duka dan suka, namun tidak akan berlarut-larut.

Kematian itu apa sii ? Kematian itu ketika ruh meninggalkan jasad, berjalan berpindah dimensi untuk kembali kepadaNya.

Kita menangisi Ibu dan Ayah kita yang telah meninggal. Kita menangis mengenang momen-momen bersama beliau. Semuanya akan berlalu. Suka duka silih berganti.

Yang pasti kita semua sedang bergerak menuju Dia.
Kita dicintai, kita berharga, kita disayang-sayang.
Ayah, Ibu, Anak, Guru, hubungan kekerabatan atau persahabatan terjadi bila karma kita bersilangan.
Untuk menuju kebahagiaan sejati, kita perlu keluar dari belitan karma, belitan samsara.

Saya menulis seperti ini bagai keledai membawa buku.
I'm writing to reminding myself about take a journey within myself.
Sampurasun.

Btw, saya bersyukur tak punya suami seganteng dan mapan Aldebaran Risjad.
Jantungku gak kuat. Deg-degan terus wahahaha.
Harus mengingat-ngingatkan diri sendiri bahwa this too shall pass.
Suka akan berlalu.
Duka pun akan berlalu.
Semua kan menuju Dia, Sang Maha Pengasih 🌹🌻🌸

Tidak ada komentar:

Posting Komentar