Menyesaaal sekali selama hidup tidak bisa memberikan kasih sayang terbaik untuk orang tua.
Saya selalu tidak ingin pulang ke rumah. Tidak betah. Tidak suka melihat orang tua berantem. Bapak pemarah. Ibu emosi tinggi suka ngomel.
Sebagai anak saya jadi bingung dan tidak betah di rumah.
Ibu saya anak piatu sejak umur 7 tahun. Dia suka dibully oleh kakak perempuannya yang kuat. Sampai meninggal, bude itu terus menjadi pembully untuk saudara dan keponakan. Ibu saya juga hidup dalam kekerasan. Bapaknya suka menendang. Ibu sambung, walau baik hati, suka mengomel. Saudara-saudara Ibu saya juga pemarah.
Bapak saya juga pemarah. Lahir dari keluarga pemarah dan pendendam. Bapak saya dari dulu suka mukul. Dan beliau dibiarkan, tidak ditegur orang tuanya.
Ibu saya sakit-sakitan. Menopause dini. Pulang dari mengajar di SMP langsung tidur. Bangun untuk minum teh, makan malam, trus tidur lagi.
Beliau tidak suka masak. Bila tidak ada pembantu, beliau histeris. Beliau histeris jika mengerjakan pekerjaan rumah. Memasak jadi momok. Membersihkan rumah maupun mencuci baju menjadi pekerjaan besar.
Ibu-ibu lain suka ke dapur sekedar untuk memasak, beres-beres di dapur, beres-beres rumah. Tidak untuk Ibu saya. Namun beliau pernah bikin kue kering. Setelah itu tidak berlanjut.
Seandainya saya pemaaf dan besar hati untuk orang tua saya.
Saya tumbuh menjadi orang keras kepala tapi hati lemah.
Saya benci sekali bila Ibu saya pidato , "Kau tidak tahu kesusahan-kesusahan hidup yang bertubi-tubi".
Dan beliau akan lanjut berpidato hingga membahas hal-hal yang tidak relevan.
Mumpung berkuasa karena anak masih kecil. Pidato dan ngomel aja terus.
Yang bikin parah adalah ajaran di keluarga adalah ajaran agama yang sangat dangkal. Tidak ada ratiban atau sholawatan bersama yang indah. Yang ada hanyalah ceramah, ceramah dan ceramah yang diberikan oleh orang yang jarang membaca.
Ibu saya tumbuh menjadi sosok yang takut pada agama, takut masuk neraka dst dst.
Komplit. Pemarah, histeris, suka ngomel, dan takut agama.
Saya menyesal pernah membantah dan melawan Beliau dengan keras. Beliau pernah memaksakan kehendak pada saya. Saya teriak kencang di hadapan beliau sampai mengguncang-guncang badan beliau. Sejak saat itu Beliau tidak berani lagi mengatur saya. Sebenarnya saya jadi sangat sedih. Saya ingin Ibu tertawa, bahagia, namun tanpa mengekang saya.
Saya ingat betapa Ibu Mertua Almarhumah sangat control freak terutama untuk ex suami saya, anak yang paling patuh menurut Mertua saya. Control freak Ibu Mertua 100 kali lipat Ibu saya. Ex Suami menurut pada Ibunya namun melampiaskan pemberontakannya pada saya. Pada saya dia bertindak seenaknya dan melanggar etika sebagai suami yang baik. Saya tidak tahan. Maaf saja, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidup bersamanya. Tidak ada kebahagiaan, dan tidak ada rasa aman. Silakan saja dia hidup bersama dengan wanita yang cocok. Dengan wanita halu yang ingin kaya raya, dihormati, namun dalam kehidupan nyata berhutang sana-sini.
Seandainya kita bisa hidup dengan kesadaran.
Seandainya kita punya hati yang luas, penyayang, pemaaf.
Seandainya kita selalu mendengar dengan hati yang penuh kasih.
Seandainya kita selalu bicara dengan kata-kata penuh kasih.
Hidup tidak akan dipenuhi dengan penyesalan.
Bunda Ilahi...
Sayangi Mama Papa Nina ya...
Mama Papa...
I forgive both of you, please forgive me.
Thank you so much.
Love both of you.
May you two be happy always.
Love you 🌹🌸🌻🌹🌸🌹🌸🌻🌹
Tidak ada komentar:
Posting Komentar