Selasa, 18 Juli 2017

Filosofi Kopi 2

Nonton "Filosofi Kopi 2" di Blitz. Alhamdulillah.

Bagus banget filmnya. Skenarionya mantap, karakternya mantap, pemainnya oke-oke, cameonya keren-keren. Semoga film bagus seperti ini laku di pasaran dan terus diproduksi. Amiin.

Capek saya nonton film yang tidak membumi. Film yang ceritanya, maaf, seperti dakwah. Ada tokoh hitam dan putih, ada masalah, ada tokoh bijak memberi solusi, masalah terselesaikan dengan damai sentosa. Ahelah.

Selain dimanjakan oleh pemandangan yang bagus di film ini seperti pemandangan kebun kopi, Jogja, atau Toraja, cerita film ini wow. Dalam. Tidak hitam putih. Bagaimana kita tidak perlu menghakimi seseorang karena latar belakangnya. Kita perlu saling memahami. Tidak ada tokoh hitam dan putih. Yang ada adalah tokoh yang dominan hitam dan dominan putih. Pengalaman traumatis dan keadaan kadang membuat orang menjadi evil. Itulah perlunya jarak, perlu meditasi agar tidak terjebak dalam "keadaan evil".

Film "Filosofi Kopi 2" ini membuat saya merenung setelah menontonnya, sebagaimana film "Filosofi Kopi", "A Copy of My Mind" dst. Ingat film "Gravity" yang bikin saya nangis sambil nonton. Ketika melihat pemandangan bumi dari ruang angkasa, begitu spektakuler, begitu hening. Indaaahnya. Sembah sujud untukMu wahai Bunda Ilahi.

Saya suka dengan penampilan Joko Anwar dalam film ini. Cocok kali Abang ini berperan sebagai Debt Collector. Wahahaha. Kadang seorang Debt Collector itu bijaksana juga. Dan "karena berjarak" si Debt Collector itu bisa melihat masalah Ben & Jodi yang ruwet itu dengan lebih jernih.

Film "Filosofi Kopi 2" ini keren, sekeren Chicco Jerikho, semanis Nadine Alexandra. Xoxoxoxo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar