Jumat, 28 Juli 2017

Angry

Memperhatikan diri sendiri klo saya pemarah. Ketemu teman yang suka memaksakan kehendak dan bersikap seenaknya, saya jadi naik pitam.

Saya yang rugi. Tenaaaang.

Perhatikan makanan. Jangan terlalu banyak makan makanan panas seperti cabe dan bawang-bawangan.

Makan raw food membuat angin dalam badan saya meningkat. Badan tidak enak serta jadi gampang marah.

Breathe in...
Breathe out...
Relax... santai....santai...

Jika perlu, praktekkan kembali Alternate Nostril Breathing dan Buddha pose. Biar mengakses energi feminin yang lembut dan sabar.

Gusti bersama orang-orang yang sabar dan welas asih 🌹🌸🌻

Kamis, 27 Juli 2017

Berkarya dengan Penuh Semangat

Ia yang menyakiti orang yang tak bersalah, bukanlah manusia, tapi hewan; hindarilah dia !
                         Rg Veda 2.23.7

Jadi, kita hindari yang suka bullying.
Mereka orang yang sadis.
Hindari demi kesehatan kita. Xoxo

Wahai manusia,
Berkaryalah dengan penuh semangat dan energi !
Usirlah iblis kemiskinan dan penyakit.
                        Atharva Veda 6.81.1

Rumah Sehat

Ibu Norma Tanoko menulis status di FB tentang keprihatinannya melihat suasana di RS Pasar Rebo Jakarta. Pasien membludak seperti pasar malam. Berobat memang gratis karena pakai BPJS namun antrinya dari pukul 4 pagi. Gusti...

Beda dengan rumah sakit-rumah sakit di Eropa yang kecil dan sepi. Berarti pasien sedikit.

Iya juga si. RSU yang gratis biasanya membludak oleh pasien. Yang saya saksikan seperti itu, bila sedang menengok teman yang sakit. Pasien di RS Swasta tidak membludak karena sangat mahal. Saya sering terkaget-kaget dengar cerita teman yang tagihan berobat di RS Swasta yang terlalu tinggi. Tidak manusiawi. Makanya banyak orang kita yang lari berobat ke Malaysia atau Singapore.

"Nama "Rumah Sakit" aja sudah salah, " tulis Bu Norma. Harusnya "Wellness Centre" atau "Wellness House".

Heeh. Rumah Sakit di Barat namanya "Hospital", "keramahan". Orang yang sakit akan diurus dengan keramahan. Di negeri kita namanya Rumah Sakit, rumahnya orang sakit. Dengar namanya saja jadi ngilu.

Orang kita ini makannya kurang sehat rata-rata. Dimana-mana ada penjual gorengan yang laris manis. Digoreng dengan minyak kelapa sawit. Minyaknya dipakai untuk beberapa kali goreng. Kadang ditambah plastik agar gorengan renyah sampai lama.

Goreng pakai minyak sawit jelas kurang sehat. Minyak dipakai berkali-kali jelas beban untuk liver. Terlalu sering makan gorengan, beban berat untuk ginjal.

Makanan orang kita kebanyakan mie instan dan gorengan. Makan gorengan jangka panjang sangat membebani liver dan ginjal. *ambil cermin.

Dana BPJS terbesar dipakai untuk pasien kanker dan gagal ginjal. Penyakit yang disebabkan gaya hidup kurang alami.

Dan yang paling parah, menurut Bu Norma, adalah kebencian yang dihembuskan hingga merusak badan.

Empat bulan menjelang Pilkada DKI, kebencian disebarkan kemana-mana, via tv, via media sosial, via pengajian. Kebencian menyebar di udara, dihirup masyarakat, menjadi racun untuk tubuh.

Seorang pejabat publik, yang penuh cinta kasih kepada rakyat, yang jujur, pintar, pekerja keras, yang mencurahkan waktu, tenaga, pikiran untuk melayani dikirim ke penjara untuk ucapan yang kesleo, yang tidak sengaja.

Begitu banyak Ustaz yang kesleo bicara, dengan mudah dimaafkan. Ustaz, yang ceramah di tv, bahwa ada pesta seks di surga dengan mudah dimaafkan. Ustaz yang maki-maki Pemerintah dengan mudah dimaafkan.

Kacau. Kekacauan ini yang ditangkap oleh tubuh. Tubuh yang kacau menjadi sakit-sakitan karena tidak selaras.

Semoga semua makhluk damai dan berbahagia.

Rabu, 26 Juli 2017

Learning from The Samana

🌾Siddharta: "Nasihatilah saya --- dengan cara apa saya dapat mengumpulkan uang ?"

🌺Kamala: "Kamu harus berusaha sesuai dengan kemampuanmu, pengetahuanmu. Katakan apa yang dapat kau lakukan? "

Siddharta: "Saya dapat BERPIKIR, dapat MENUNGGU, dapat BERPUASA."

Kamala: "Selain itu?"

Siddhartha: "Tidak sesuatu apa pun."

Dengarkan Kamala, apabila aku menginginkan sesuatu, aku tidak akan berpikir tentang apa pun yang lain, kecuali apa yang kuinginkan.
Kemudian aku akan menunggu dan berpuasa.
Itu saja.
Dan keinginanku akan terpenuhi.
Pelajaran ini kuperoleh dari para Samana. Kemudian mereka yang bodoh, yang tidak memahami kebenaran ini mengatakan bahwa para Samana menggunakan jampi-jampi. Bahkan mereka dituduh menguasai jin. Sebenarnya tidak demikian.
Yang disebut jampi-jampi atau jin itu tidak ada.
Setiap orang dapat memperoleh apa yang ia inginkan, asal ia bisa berpikir, menunggu dan berpuasa."

🍁Percakapan Siddhartha dengan Kamaswami, seorang pengusaha.

Siddharta: "Demikianlah hidup ini. Setiap orang memberi dan setiap orang menerima."

Kawaswami : "Lantas apa yang dapat kau berikan ?"

"Saya bisa berpikir, menunggu, dan berpuasa."

"Hanya itu saja ?"

"Saya pikir hanya itu saja."

"Dan apa gunanya semua itu ? Misalnya berpuasa, apa gunanya puasa itu ?"

"Sangat berguna, Tuan. Apabila tidak punya makanan, orang yang bisa berpuasa tidak akan menderita.
Misalnya saya, kalau tidak mampu menahan lapar, mungkin saya sudah bekerja di mana saja, sama siapa saja. Saya akan menerima pekerjaan apa saja. Tetapi karena saya bisa menahan lapar, bisa berpuasa, saya bisa menunggu."

Kutipan percakapan di atas saya kutip dari buku "Seni Memberdaya Diri 2" oleh Anand Krishna🌹
Buku "Seni Memberdaya Diri 2" ini terinspirasi dari Hermann Hesse🌹 dan Osho🌹.

Menarik kan.
Rahasia para Samana:
Fokus pada apa yang diinginkan, Berpikir, Menunggu, Berpuasa.


Namaste 🌹🌸🌻🌹🌸🌻🌹🌻


3 Z

Barusan masak nasi, bikin jelly untuk yogurt, bikin puding dengan memanfaatkan sisa-sisa kue kering, trus cuci-cuci piring. Beres-beres deh.

Biasanya malas ke dapur. Jadi semangat karena sambil mendengarkan Kirtan.

Cie cie. Rajin ni ye.

Yang mengganggu itu pikiran. Muncul dari mana ke mana, dari masa lalu ke masa depan, balik lagi dari masa depan ke masa lalu, terus dan terus. Bila sambil mendengarkan kirtan, berasa masak sambil memuja Gusti. Pikiran fokus ke kerjaan dan kirtan, tidak ke sejarah masa lalu dan ke rencana masa depan.

Pikiran itu benar Iblis kok.
Berikan Iblis pekerjaan sehingga tidak mengganggumu. Bila perlu, baru kau suruh dia kerja.
Beri Iblis pekerjaan 3Z: Zikir, Zakat, Ziarah.
Zikir : membaca puji-pujian untukNya dalam bahasa apa pun.
Zakat : jadikan pekerjaan sebagai persembahan untukNya.
Ziarah : dengan demikian seluruh hidupmu merupakan Ziarah (perjalanan suci).
Demikian salah satu pelajaran yang kudapat dari Suhuku.

Namaste 🌹🌸🌻

Sebuah Permohonan

Bunda Ilahi...
Begitu banyak berkah yang Kau berikan padaku...
Bisa baca buku-buku yang menarik dan keren-keren.
Nonton film keren-keren.
Bisa meditasi bersama Suhu. Sangat indah.
Bisa retreat ke Puncak, ke Ubud Bali, bisa ikut kegiatan bersama Anand Ashram.
Menyelami ilmu tentang kehidupan dari Suhu sejati.
Mohon kiranya kenikmatan yang saya rasakan, bisa dirasakan oleh Mama Papa saya.
Semoga Mama Papa selalu diterangi oleh cahaya pengetahuan sejati dalam perjalanan mereka menujuMu.
Please please... have mercy on them.
Please 🌹🌸🌻🌹🌸🌻🌹🌸🌻

Forgiving

Menyesaaal sekali selama hidup tidak bisa memberikan kasih sayang terbaik untuk orang tua.

Saya selalu tidak ingin pulang ke rumah. Tidak betah. Tidak suka melihat orang tua berantem. Bapak pemarah. Ibu emosi tinggi suka ngomel.

Sebagai anak saya jadi bingung dan tidak betah di rumah.

Ibu saya anak piatu sejak umur 7 tahun. Dia suka dibully oleh kakak perempuannya yang kuat. Sampai meninggal, bude itu terus menjadi pembully untuk saudara dan keponakan. Ibu saya juga hidup dalam kekerasan. Bapaknya suka menendang. Ibu sambung, walau baik hati, suka mengomel. Saudara-saudara Ibu saya juga pemarah.

Bapak saya juga pemarah. Lahir dari keluarga pemarah dan pendendam. Bapak saya dari dulu suka mukul. Dan beliau dibiarkan, tidak ditegur orang tuanya.

Ibu saya sakit-sakitan. Menopause dini. Pulang dari mengajar di SMP langsung tidur. Bangun untuk minum teh, makan malam, trus tidur lagi.

Beliau tidak suka masak. Bila tidak ada pembantu, beliau histeris. Beliau histeris jika mengerjakan pekerjaan rumah. Memasak jadi momok. Membersihkan rumah maupun mencuci baju menjadi pekerjaan besar.

Ibu-ibu lain suka ke dapur sekedar untuk memasak, beres-beres di dapur, beres-beres rumah. Tidak untuk Ibu saya. Namun beliau pernah bikin kue kering. Setelah itu tidak berlanjut.

Seandainya saya pemaaf dan besar hati untuk orang tua saya.
Saya tumbuh menjadi orang keras kepala tapi hati lemah.
Saya benci sekali bila Ibu saya pidato , "Kau tidak tahu kesusahan-kesusahan hidup yang bertubi-tubi".
Dan beliau akan lanjut berpidato hingga membahas hal-hal yang tidak relevan.
Mumpung berkuasa karena anak masih kecil. Pidato dan ngomel aja terus.

Yang bikin parah adalah ajaran di keluarga adalah ajaran agama yang sangat dangkal. Tidak ada ratiban atau sholawatan bersama yang indah. Yang ada hanyalah ceramah, ceramah dan ceramah yang diberikan oleh orang yang jarang membaca.

Ibu saya tumbuh menjadi sosok yang takut pada agama, takut masuk neraka dst dst.
Komplit. Pemarah, histeris, suka ngomel, dan takut agama.

Saya menyesal pernah membantah dan melawan Beliau dengan keras. Beliau pernah memaksakan kehendak pada saya. Saya teriak kencang di hadapan beliau sampai mengguncang-guncang badan beliau. Sejak saat itu Beliau tidak berani lagi mengatur saya. Sebenarnya saya jadi sangat sedih. Saya ingin Ibu tertawa, bahagia, namun tanpa mengekang saya.

Saya ingat betapa Ibu Mertua Almarhumah sangat control freak terutama untuk ex suami saya, anak yang paling patuh menurut Mertua saya. Control freak Ibu Mertua 100 kali lipat Ibu saya. Ex Suami menurut pada Ibunya namun melampiaskan pemberontakannya pada saya. Pada saya dia bertindak seenaknya dan melanggar etika sebagai suami yang baik. Saya tidak tahan. Maaf saja, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidup bersamanya. Tidak ada kebahagiaan, dan tidak ada rasa aman. Silakan saja dia hidup bersama dengan wanita yang cocok. Dengan wanita halu yang ingin kaya raya, dihormati, namun dalam kehidupan nyata berhutang sana-sini.

Seandainya kita bisa hidup dengan kesadaran.
Seandainya kita punya hati yang luas, penyayang, pemaaf.
Seandainya kita selalu mendengar dengan hati yang penuh kasih.
Seandainya kita selalu bicara dengan kata-kata penuh kasih.
Hidup tidak akan dipenuhi dengan penyesalan.

Bunda Ilahi...
Sayangi Mama Papa Nina ya...

Mama Papa...
I forgive both of you, please forgive me.
Thank you so much.
Love both of you.
May you two be happy always.
Love you 🌹🌸🌻🌹🌸🌹🌸🌻🌹