Tokoh-tokoh dalam novelnya kok mudah sekali bunuh diri. Merasa depresi, langsung bunuh diri. Siapa sii yang tidak pernah merasakan depresi dalam hidup ? Namun memutuskan untuk bunuh diri adalah mirroring. Banyak yang bunuh diri, jadi orang yang depresi ikutan bunuh diri.
Saya membaca wall Ibu yang anaknya, yang masih SMP, bunuh diri. Ibu itu "menuduh" hal ini karena anaknya suka membaca anime / manga Jepang dimana beberapa tokoh bunuh diri.
Orang tua anak ini bercerai, dan masing-masing sudah menikah lagi. Anak ini tinggal bersama Nenek dan Tantenya di Jakarta. Banyak yang mengira /menganalisa bahwa anak ini bunuh diri karena merasa tidak diperhatikan, kurang kasih sayang, orang tuanya lebih memperhatikan keluarga barunya.
Mungkin anak ini depresi karena Bapak Ibunya bercerai...
Saya perhatikan anak-anak jalanan yang orang-tuanya bercerai, yang orang tuanya memanfaatkan dia untuk mencari nafkah. Anak-anak itu tidak hidup layak, tidak merasakan hidup nyaman, sekolah yang berkualitas, les bahasa Inggris, travelling, nonton, punya gadget bagus. Kok anak-anak jalanan jarang yang bunuh diri ya.
Itulah mirroring. Orang cenderung meniru orang di sekitar. Bisa juga meniru artis idola, buku, media social, tv.
Mirorring dari buku sebenarnya bagus loh. Karena buku membuat otak menganalisa, membuat otak "memasak" informasi yang masuk, tidak menelan informasi atau berita mentah-mentah. Beda sekali dengan nonton tv
Namun tentu saja ada pengecualian. Anak yang bunuh ini sering baca manga (komik Jepang). Komik bukan buku yang membuat otak menganalisa ya. Komik adalah gambar-gambar.
By the way busway, ada juga yang membaca buku aliran keras menjadi keras dan fanatik.
Hidup emang kompleks. Tidak hitam putih saja.
Semoga kita semua diberikan pikiran yang jernih. Amiin.
TerimaKasih. Namaste...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar