Kamis, 01 Oktober 2015
Menyesali Nasib
Beruntungnya si A. Dapat pekerjaan bagus. Walau dia ibu rumah tangga dengan 3 anak yang diurusnya dengan baik, dia tetap bisa berkarir dengan baik. Dia seorang akademisi yang sukses, seorang penulis dan seorang penari. Saya melihat fotonya di FB dengan calon suami yang ketiga.
Alam semesta berkonspirasi untuk memberikan karir yang cemerlang untuk dia.
Saya membaca kisah sukses Pemilik grup Hotel Oberoi dari India. Alam berkonspirasi untuk mendorong dia menjadi pengusaha sukses.
Dalam "Outliers" Malcolm Gladwell membeberkan faktor kesuksesan seseorang. Lahir kapan dan dimana, kesempatan dan kerja keras (10 ribu jam terbang). Faktor "hoki" adalah salah satu faktor mengapa muncul seorang Bill Gates dan seorang Zuckerberg.
Pernah merasakan gak sii, betapa beruntungnya seseorang. Jalan dia untuk kaya raya terbuka lebar. Jalan untuk berkarir dengan cemerlang terbuka lebar. Wajah kurang cantik, tapi bisa dapat suami yang sukses dan menyayangi dia.
Itulah garis hidup, atau karma, atau takdir.
Bagaimana dengan kita dan karma kita. Kadang kita menyesalkan karma kita yang tidak sebagus orang lain. Itulah buah dari perbuatan kita. Nah bagaimana kita menyikapinya? Mau tetap ceria dengan lagu dan tarian seperti dalam film Bollywood atau mau bermuram durja, menghabiskan waktu dengan menyesali nasib lalu menenggak obat tidur ?
Saya membahas hal "karma buruk" ini karena terinspirasi dari buku "Yoga Sutra Patanjali" karya Anand Krishna dan buku "Cacing dan Kotoran Kesayangannya" karya Ajahn Brahm.
Bila menyesali diri, mengapa tidak bisa membeli baju, tas, sepatu yang bagus-bagus, tengoklah Ajahn Brahm. Bajunya cuma jubah biasa beberapa buah. Bila menyesali diri karena tabungan di bank angkanya pada saldo minimal, tengoklah Ajahn Brahm yang tidak memegang duit. Bila ingin memiliki rumah yang nyaman dan indah, tengoklah kamar Ajahn Brahm yang sederhana. Dengan hidup sangat sederhana, beliau berwajah cerah dan penuh kebahagiaan, bisa melayani sesama.
Sepanjang pengamatan saya, Pak Anand Krishna hidup sederhana. Makan makanan sederhana hanya sekali sehari. Pakaian sedehana. Hidup seperti beliau tidak menyenangkan indra-indra yang ingin dimanja. Beliau mapkan dan tidur seperlunya, sisanya diisi dengan kerja keras. Uang yang ada tidak digunakan untuk kesenangan pribadi. Tanpa kekuatan dan cinta, siapa yang tahan menjalani hidup seperti itu.
Intinya, marilah kita menerima garis hidup kita. Mari hidup ceria penuh tawa, tarian dan lagu seperti dalam film Bollywood.
TerimaKasih... Namaste...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar