Jumat, 09 Oktober 2015
Bangkit dari Mirroring
Seorang teman mempunyai istri 3. Kata teman yang lain, "Dia mirip Bapaknya. Bapaknya juga poligami. Aku tak poligami karena orang-tua wanti-wanti untuk tidak menyakiti hati istri."
Bapak seorang Musisi menikah lagi sehingga membuat Ibunya terluka. Musisi ini tinggal bersama Ibunya. Dia tidak suka pada pada perilaku Bapaknya namun dia meniru perilaku Bapaknya itu. Musisi ini menikah lagi sehingga membuat istri pertamanya sakit hati dan meminta cerai.
Seorang penulis bercerai dengan suaminya. Setelah perceraian, barulah penulis ini menceritakan bahwa suaminya tukang pukul. Orang tua si suami ini bercerai karena Ibunya tidak tahan dengan perilaku kasar suaminya. Si Suami ini tidak suka dengan perilaku Bapaknya namun dia mengikuti perilaku Bapaknya.
Itulah Mirroring. Kita meniru perilaku orang di sekitar kita, walau kita tidak suka.
Saya tidak suka dengan perilaku malas dan suka marah-marah dan bentak-bentak. Saya tidak suka, namun saya ternyata memiliki perilaku seperti itu.
Hingga saat ini saya berusaha untuk keluar dari perilaku bermalas-malasan. Cukup lama saya berusaha untuk tidak menjadi pemarah dan suka bentak-bentak. Mulai dari makanan yang tidak pedas dan melembutkan diri dengan prayanama. Mulai tampak hasilnya. Saya sudah tidak sepemarah dulu.
Seorang kerabat memiliki perilaku seperti Bapaknya. Dia tahu betapa Ibunya sakit hati dengan perilaku Bapaknya yang cuek dan seenaknya terhadap istri. Namun dia mengikuti perilaku Bapaknya. Dia persis seperti Bapaknya, bertingkah seenaknya tanpa peduli dengan kesehatan dan kesejahtraan istrinya.
Manusia bisa berubah jika dia menyadari kesalahannya dan bertekad untuk mengubahnya. Biasanya manusia sulit untuk menyadari perilaku yang menyakiti diri dan sekitar. Itulah perlunya meditasi, untuk menyaksikan dan menyadari pikiran dan emosi kita.
Bapak Jusuf Kalla adalah salah seorang yang bisa keluar dari Mirroring. Saya membaca biografi JK yang merupakan kenangan terhadap Almarhumah Ibunya, "Athirah", betapa Ibu Athirah terluka saat dipoligami. JK sempat tidak diterima oleh calon mertua, Bapaknya Ibu Mufidah, karena takut Mufidah dipoligami. Namun JK bertekad untuk tidak poligami dan beliau buktikan hingga saat ini.
Itulah perlunya meditasi dan memilih lingkungan kita. Kita bisa memilih teman-teman yang rajin dan penuh semangat berkarya. Kita bisa memilih teman-teman yang menunjang perkembangan kita.
Seorang teman, yang memiliki pekerjaan bagus, suka berteman dengan gerombolan pengangguran yang pembohong dan pengkhayal. Dia suka berteman dengan gerombolan itu karena memenuhi kebutuhannya untuk "merasa penting". Akhirnya dia menjadi seperti teman-teman gerombolan itu. Dia jadi pembohong, berperilaku seenaknya, dan penipu. Itulah pilihan hidupnya.
Semoga kita bisa bangkit dari Mirroring yang merugikan kita dan lingkungan kita. Amiin.
TerimaKasih. Namaste...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar