Selasa, 15 September 2015
9 dari Nadira
Satu dari manfaat membaca adalah kita bisa menghayati beragam pengalaman hidup seseorang tanpa menjalaninya. Tidak cukup umur rek.
Membaca "9 dari Nadira", saya bisa "merasakan" bagaimana rasanya jadi wartawan majalah Tempo eh Tera. Bagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di College di Kanada. Bagaimana kehidupan wanita terpelajar di masa Bung Karno, wanita putri pengusaha yang belajar sastra di Belanda.
Menghayati beragam kehidupan.
Jika ingin travelling tanpa biaya besar kita bisa membaca buku Agustinus Wibowo sambil berimajinasi. Jika ingin menyelami kehidupan mari tenggelam dalam karya-karya sastra.
Sastra memang memikat karena mengupas kehidupan apa adanya. Betapa kehidupan sangat berwarna, tidak hitam putih. Dan betapa membosankan karya yang "berdakwah". Baru membaca saja sudah mengerti arah dan akhirnya.
Mengapa seorang wanita yang tampak bahagia dengan berkecukupan, dengan suami dan anak-anak yang baik bisa mengakhiri hidupnya begitu saja. Hidup ini penuh persoalan, otak manusia bisa sangat liar tanpa batas, gejolak emosi bisa turun naik seperti rollcoaster.
Buku "9 dari Nadira" ini buku yang patut dibaca. Kita bisa menghayati perjalanan / pengalaman hidup Leila eh Nadira.
Memang banyak buku sastra memikat berasal dari pengalaman hidup penulis seperti novel Amy Tan, NH Dini, A. Fuadi, Rani Rachmani Moediarta, Fira Basuki. Ada juga novel yang berasal dari pengalaman sebagai wartawan majalah wanita yang sering berinteraksi dengan banyak wanita dan kehidupannya.
Ada pepatah Cina yang artinya, setiap rumah tangga mempunyai buku yang sulit dibaca. Hehehe, saya kutip dari buku "Titik Nol" Agustinus Wibowo. Dan, menurut saya, rata-rata manusia juga seperti itu, mempunyai buku yang sulit dibaca. Untuk itu perlu belajar "membaca".
Buku ini sayang bila dilewatkan. Thank you for writing Leila.
Namaste 😊
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar