Sabtu, 18 April 2015
Perfeksionis
Saya termasuk perfeksionis. Bila sudah suka pada buku satu penulis maka saya akan mengoleksi buku-buku dari pengarang tersebut.
Saya mengoleksi buku-buku karya Anand Krishna, NH. Dini, Paulo Coelho, Dee Lestari, A. Fuadi, Raditya Dika, Alberthiene Endah, Ika Natasha, Andrea Hirata, Leila S. Chudori dll. Berburu buku yang sudah menjurus ke "temptation".
Saya punya seri buku "Lima Sekawan", seri chicklit Sophie Kinsella, buku seri Olga dan Lupus, buku seri Emil dan Pippi dst.
Rasanya fardhu ain untuk punya koleksi buku dari penulis favorit. Padahal setelah dikoleksi, perasaan biasa saja. Memangnya kenapa bila tidak lengkap.
Demikian pula dengan belajar. Saya belajar harus perfeksionis. Belajar massage harus perfeksionis. Sesudah belajar massage tradisionil merasa wajib belajar massage aromatherapy, lanjut belajar massage a la Ayurveda, Shiatsu, Tuina. Sampai kapan juga tidak bakal selesai belajarnya.
Belajar perawatan wanita juga begitu. Mulai dari perawatan rambut, wajah, manicure pedicure, make up, gunting, memakai hijab. Terus terus sehingga menjadi Jack of all trade.
Saya senang koleksi batu kristal. Rasanya wajib mengkoleksi kristal mukai dari Rose Quartz hingga Rutilited.
Yang mewajibkan itu siapa? Mengapa harus sempurna? Rupanya nafsu menggebu yang mengharuskan saya untuk perfeksionis. Sifat yang sangat merugikan dan memboroskan uang waktu tenaga.
Jadi tak heran saat membaca buku "Hermes Temptation" karya Alexandra Dewi dan Fitria Yusuf. Begitu punya satu tas Hermes, pingin lagi lagi lagi.
Nafsu tak pernah puas.
Makanya nafsu (kama) itu diarahkan untuk menuju moksa (kebebasan dari keterikatan duniawi menuju Dia). Sementara harta (artha) diarahkan agar bisa menjadi dharma kita. Demikian arti simbol Swastika yang saya baca pada buku "Feng Shui Awareness" karya Anand Krishna.
Bila nafsu diarahkan ke arah harta, tidak bakal selesai dalam berkali-kali masa kehidupan.
Kadang keadaan kritis menjadi berkah. Tabungan saldo minimal, duit di dompet sangat tipis membuat kita tidak bisa memanjakan sifat perfeksionis kita.
Saya ingin mencoba eyeliner yang baru direkomendasikan teman. Padahal saya sudah punya 2 eyeliner cair, beberapa eyeliner pensil. Saya tidak bisa memenuhi nafsu saya karena kondisi keuangan yang layak masuk UGD.
Alhamdulillah. Kadang kepahitan hidup membawa keberkahan. Amiin... Semoga...
TerimaKasih... Namaste
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar