Senin, 16 Maret 2015

Trauma dan Dendam


Seorang ibu berusia 57 tahun tidak mau berhubungan lagi dengan saudara kandung satu-satunya...

Kebencian dia pada adiknya mau dibawa sampai liang lahat.

Bermula dari orang tua yg suka meledak-ledak dan suka memukul. Ayah pemarah, ibu pemarah, suka ngomel dan tidak berdaya...

Si Ibu X ini menganggap bahwa adiknya itu lebih dimanja orangtuanya daripada dia. Dimanja dalam arti "kurang dipukul"...

Padahal sering dipukul atau jarang dipukul tetap akan berbekas pada diri anak. Dia akan sakit hati, merasa tak berharga dan tak berdaya...

Ibu X ini benci pada perlakuan orang tuanya yang kasar. Dia tak sadar bahwa perilakunya persis seperti orangtuanya. Sepertinya dia lebih sadis.  

Padahal si Ibu X ini taat beragama loh. Taat beragama tidak cukup. Bahkan manusia bisa manipulatif mencari dalil-dalil agama untuk membenarkan kesalahan dirinya..

Begitulah... Dalam hidup ini ada hitam dan putih. Ada perilaku tepat dan ada perilaku tidak tepat.

Banyak kesalahan yang kita lakukan karena ignorance, ketidak-tahuan kita. Kemudian kita mendapat azab karena perilaku salah kita. Bila tidak "aware" kita akan masuk ke dalam lingkaran azab tanpa bisa keluar.

Semesta tidak menghukum kita. Semesta hanya memberikan apa yang telah kita tabur. 

Perlu kesadaran, meditasi, tafakur untuk menyadari kehewanan dalam diri. Perlu bantuan Ayurhypnotherapy untuk melepaskan diri dari trauma, dari pola yang selama ini menjerat kita.

Biasanya manusia tukang utang, misalnya, akan mati sebagai pengutang. "Biasanya" tidak berarti selalu. Selalu terbuka kemungkinan untuk berubah selama hayat dikandung badan.

Semoga pendendam bisa memaafkan.
Semoga kita menjadi orang yang pemaaf dan penuh kasih.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Amiin... amiin...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar