Senin, 23 Maret 2015

Happiness


Kebahagiaan adalah bertemu dengan seorang Guru sejati. Alhamdulillah.

Senin pukul 19.00 wib tadi malam terasa sekali sebagai malam penuh berkah.

Guru memandu meditasi untuk memasuki kehenangan diri. Meditasi malam ini sangat spesial karena membebaskan diri dari masalah yang membebani pikiran dan emosi.

Perasaan bersalah sangat membebani. Kesalahan- kesalahan yang dilakukan terhadap orang tua apalagi, walaupun kita lakukan karena ignorance. Dan yang paling besar adalah kesalahan yang dilakukan terhadap diri sendiri seperti membiarkan diri dizalimi pasangan bertahun-tahun.

Kadang kita terbebani oleh "bukan kesalahan" kita. Misalnya suami bergaul dengan kalangan penipu, sering yang disalahkan keluarga adalah sang istri. Padahal setiap orang bertanggung-jawab atas kehidupannya sendiri.

Ada seorang pria yang nyaman sekali bergaul dengan kalangan pria mokondo penipu. Ternyata dia sangat nyaman bergaul dengan kelompok pria mokondo karena dia disanjung-sanjung sebagai orang yang sangat penting dan bakal orang kaya raya  yang dihormati banyak orang.

Pria itu bisa memberikan semua hartanya, bisa ngutang kesana kemari demi pujian. Memang dia digendam. Namun seseorang bisa digendam bila dia punya kekurangan yang bisa dijadikan jangkar oleh penggendam.

Istri pria itu selalu memberikan peringatan pada suaminya, namun suaminya tidak memperdulikannya.

Pria itu terpuruk karena ignorance nya sendiri. Kesalahan istri adalah DIA WANITA TAK BERDAYA, YANG MEMBERIKAN REMOTE CONTROL KEBAHAGIAAN HIDUPNYA PADA SUAMI.

"Aku bertanggung-jawab penuh atas hidupku ini" merupakan afirmasi chakra pertama Kundalini Yoga.

Teknik membebaskan diri dari permasalahan yang membelenggu diri ini sungguh sangat cespleng.

Setelah meditasi bersama, Guru memberikan speech tentang kehidupan yang sangat menarik. Berasa ketampar-tampar deh. Berasa speech itu untukku *gede rasa.

Beliau mengingatkan bahwa arti kata kota saya tercinta, Gorontalo, berasal dari kata Guruntala yang berarti kolam para guru.

Saya lahir di kota dengan peradaban tinggi, yang lupa akan ketinggian budayanya.

Sampai tahun 80an, orang Gorontalo mengadakan selamatan dengan beras berwarna-warni. Setiap selesai selamatan, setiap orang akan dipakaikan bindi di mata ketiga. Riasan pengantin wanita Gorontalo seperti riasan pengantin India, dengan titik-titik putih di sekitar dahi. Pengantin pria akan menyentuh bindi pengantin wanita saat selesai ijab kabul. 

Baru sadar saya bahwa budaya orang Gorontalo seperti budaya para Sufi di Sindh (Pakistan).

Orang-orang tua menyambut kematian seperti bersiap menuju pesta besar. Budaya yang sangat indah. Hingga kaum Wahabi datang. Tradisi-tradisi yang indah hilang. Setiap acara peringatan seperti peringatan meninggalnya keluarga saat ini akan diisi oleh ceramah-ceramah saja. Jika penceramahnya oke, bolehlah. Jika tidak, maka begitulah...

Selanjutnya Guru mengingatkan bahwa para meditator / yogi adalah seorang pekerja keras yang bekerja dengan efektif.

Berarti saya belum menjadi seorang meditator atau seorang yogi. Saya pikir saya seorang meditator atau seorang yogi. Padahal latihan sangat jarang. Saya juga belum hidup secara meditatif atau secara yoga. Jauh panggang dari api...

Seorang meditator bukanlah seorang peminta-minta, untuk ongkos transport minta-minta. Seorang yogi adalah seorang pekerja keras yang melayani masyarakat bukan seorang parasit. Jadi maluuu.

Demikian sekilas pertemuan dengan Guru sejati yang berlangsung sangat meriah. Dada rasanya hangat dengan perasaan bahagia. Alhamdulillah. TerimaKasih atas kesempatan berharga ini.

TerimaKasih... Namaste...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar